Global Crisis - Financial Area ( Krisis global pada sektor finansial).
Berikut penulis mencoba mengangkat krisis ekonomi dunia pada blog ini. Dalam hal ini, penulis mengkutip dari majalah Herald Tribune yang terbit di Hongkong.
Mengapa memilih majalah Herald Tribune ? karena penulis menganggap majalah ini cukup mumpuni dalam pembahasan masalah-masalah ekonomi.
Mengapa memilih majalah Heralrd Tribune yang terbit di Hongkong ? Karena kebetulan penulis mendapat masukan dari kolega yang baru saja pulang dari bertugas di Hongkong. Berikut beberapa kutipannya :
An International Action Plan
Short Therm ( by Herald Tribune )
- Pemimpin dunia perlu segera beraksi atas sistem finansial yang sudah kacau dengan membangun sistem ekonomi global yang baru
- Perlunya perubahan pandangan dunia terhadap sistem ekonomi global dengan regulasi yang dapat dijalankan oleh semua negara dan meminimalisasi resiko yang ada
- Kebijakan nasional dan standarisasi ekonomi tiap negara perlu disesuaikan kembali
- Respon positif diperlukan dari setiap negara terhadap krisis yang menimpa dunia dan tidak memerlukan reaksi berlebih yang menyebabkan keresahan masyarakat dunia
- Industri Finansial harus lebih memperkuat keadaan ekonomi masing – masing negara dengan mengurangi resiko managemen yang ada
An International Action Plan
Long Therm ( by Herald Tribune )
- Negara dengan struktur ekonomi yang kuat di luar G-20 harus turut membantu perekonomian dunia ( contoh : China & India )
- Mengurangi peranan IMF dengan hadirnya negara – negara kuat tersebut untuk menyeimbangi perekonomian global
- Memperkuat peranan G-20 dalam sistem ekonomi dunia
- Bank Dunia yang berfokus kepada kesehatan perekonomian dunia
- Membuat forum – forum ekonomi untuk membangun kembali struktur ekonomi.
Mungkin bagi anda yang tidak terlalu mengikuti perkembangan ekonomi, baik nasional maupun dunia, tidak terlalu paham akan kondisi sekarang ini. Dari berbagai sumber, penulis menyimpulkan bahwa pada dasarnya krisis ini dimulai dari mulai seret-nya kredit perumahan di AS. Sebagian besar rumah, apartemen, perkantoran di AS dibayarkan dengan sistem kredit, bahkan sistem kredit tersebut bisa diwariskan pada orang lain ataupun anggota keluarga jika pemilik pertamanya meninggal dunia. Fakta ini tentu akan menimbulkan pertanyaan-pertanyaan antara lain :
- Mengapa menggunakan sistem kredit ?
+ Karena harga lahan di AS luar biasa mahal dan tidak semua orang mampu membeli lahan apalagi membangun rumah.
- Mengapa mahal ?
+ Karena begitu ketatnya aturan di negara tersebut sehingga sebuah rumah, apartemen, dan pertokoan harus memenuhi banyak sekali syarat, baik saat pembangunannya, saat sedang digunakan, dan saat penghancurannya. Semua syarat tersebut diharapkan dapat memenuhi tuntutan undang-undang keselamatan yang menuntut keamanan total bagi manusia dari resiko-resiko yang dapat membunuh, mencelakakan, dan membuat penghuninya terjangkit penyakit. Sebagai contoh, saat sebuah bidang lahan direncanakan untuk dibangun rumah tinggal maka rumah tersebut harus terbuka, harus memiliki akses jalan, harus memiliki akses ke saluran air bersih dan saluran pembuangan air, harus memiliki akses ke gas untuk memasak dan alat penghangat, harus memiliki akses untuk pemadam kebakaran, harus bisa terlihat ataupun terbuka agar saat terjadi tindakan kriminal polisi dapat langsung menuju lokasi. Syarat tersebut dianggap sebagai syarat minimal keselamatan. Dan itupun berlaku untuk semua gedung yang dibangun diatas tanah AS. Tentu saja untuk memenuhi semua syarat tersebut dibutuhkan biaya yang besar sekali dimana, tentu saja, developer pembangunnya tidak mau menanggungnya dan akan melimpahkan ke konsumennya. Itu masih belum termasuk pemilihan material bangunannya yang harus kokoh, jika terjadi kesalahan dalam perancangan, maka tidak semua bagian rumah tersebut roboh, harus ringan dan tidak membutuhkan penghangatan ekstrem pada saat musim dingin. Dan banyak lagi persyaratannya yang menimbulkan biaya yang tinggi.
- Mengapa jika melihat di film-film produksi AS rumah terlihat besar dan nyaman ?
+ Namanya juga film, apalagi negara tersebut termasuk gengsi dan semangat kesejahteraannya sudah mendarah daging, jadi yang ditampilkan adalah rumah-rumah mewah, padahal bisa saja itu hasil dari setting holywood saja. Kalau soal besar-nya, tentu lebih besar karena orang-orang AS kan memang tubuhnya lebih besar daripada orang Asia. Tentu mereka mendesain rumah yang nyaman untuk ditinggali dengan kondisi tubuh tersebut.
- Mengapa gara-gara kredit perumahan AS yang macet bisa mempengaruhi seluruh dunia ?
+ Nah, ini pertanyaan bagus jika anda sempat memikirkannya. Dari seluruh sumber informasi yang bisa didapat penulis, penulis menyimpulkan bahwa :
1. Kartu kredit adalah alat pembayaran utama di AS, dalam transaksi kartu kredit, orang bisa memiliki barang sebelum membayarnya lebih dulu meskipun rekening orang tersebut sama sekali nol. Sistem penggajian karyawan di AS pun menggunakan sistem pembayaran online dari bank-bank yang ada. Jika pada saatnya gajian, tetapi perusahaan tersebut belum memiliki dana cash untuk menggaji, maka perusahaan tersebut bisa melakukan pembayaran secara kredit pada bank-bank yang ada, jadi bayar gaji secara kredit. Mulai dari sini, tentu anda bisa membayangkan perputaran uang di AS seperti apa. Kartu kredit memang sangat dibela oleh pemerintah AS karena dengan begitu, setiap pembelian bisa dilacak dengan mudah dan negara dapat dengan mudah menulusuri satu per satu data keuangan warganya setiap saat dimanapun orang tersebut berada di dunia ini. Hal ini memang dapat digunakan pemerintah AS untuk mengetahui secara pasti tingkat pertumbuhan ekonominya sendiri.
2. Perusahaan multinasional. Perusahaan-perusahaan di AS memang didorong untuk melakukan keterbukaan atau terjun ke bursa agar dapat lebih berkembang dan mendapatkan dananya dengan cara menjual sahamnya di pasar bursa saham. Dari perusahaan-perusahaan tersebut banyak diantaranya yang sudah melakukan ekspansi sampai ke negara lain dengan beragam produk dan jenis usaha. Yang paling terlihat adalah perusahaan-perusahaan yang bergerak di keuangan seperti bank dan asuransi. Juga termasuk pada sektor industri makanan. Dan yang terbesar adalah perusahaan-perusahaan yang bergerak di bidang tambang, apalagi eksplorasi minyak bumi. Dan mereka itu sudah termasuk perusahaan multinasional.
3. Bursa saham. Bursa saham seperti yang sudah dijelaskan pada nomor 2 diatas, adalah perdagangan perusahaan melalui lembaran saham. Perusahaan-perusahaan di AS yang sudah terjun ke bursa saham selain dapat menjual sahamnya, mereka juga dapat membeli saham dari perusahaan-perusahaan yang terdaftar disana. Pada dasarnya bursa saham di suatu negara adalah suatu simpul atau persimpangan pertemuan antara banyak perusahaan lokal dengan perusahaan luar negeri. Kalau bursa sahamnya ada di AS, tentu yang dianggap perusahaan luar negeri adalah perusahaan-perusahaan dari negara selain AS, dan itu termasuk Indonesia. Perusahaan-perusahaan dari luar AS yang dianggap sudah Go Internasional akan terlihat informasi keuangannya secara transparant di bursa AS yang namanya New York Stock Exchange atau NYSE. Para pemain lantai bursa dapat memutuskan sendiri untuk membeli saham-saham dari perusahaan tersebut atau tidak.
Informasi tambahan: Perusahaan-perusahaan yang sudah terdaftar di NYSE mendapat modal segar dari hasil penjualan sahamnya yang dibeli oleh perusahaan-perusahaan di lantai bursa NYSE. Perusahaan yang membeli saham disebut investor oleh perusahaan yang dibeli sahamnya. Jika mendadak laporan keuangan suatu perusahaan menjadi menurun secara drastis ataupun perlahan tapi pasti, maka para investor akan menjual saham perusahaan tersebut atau disebut melepas sahamnya, dan saham yang dijual itu belum tentu dibeli lagi oleh pihak lain. Jika hal ini terjadi, maka perusahaan yang keuangannya menurun tersebut tidak akan mendapat modal lagi sampai keuangannya menjadi positif kembali.
Nah, dari penjelasan yang rumit tersebut, penulis harap, anda dapat mengikutinnya sampai disini tentang aliran dana yang terjadi di dunia secara garis besar.
Karena tingkat bunga kredit yang otomatis meninggi pada para pemilik bangunan di AS karena menunggak pembayaran kredit perumahannya, maka para pemilik rumah tersebut akhirnya mencabut kreditnya dari bank atau lembaga pembayaran di AS. Mengapa para pemilik rumah tersebut tidak dapat membayarkan kreditnya lagi ? Karena tingkat pajak di AS meningkat tinggi sekali, diduga untuk menutup defisit anggaran yang digunakan untuk perang di Irak. Tetapi hal ini akan terus dibantah oleh pemerintahan George W Bush.
Seiring dengan meningkatnya bunga kredit, maka orang-orang yang melepaskan rumahnya pun semakin banyak, dan semua orang yang menginginkan rumah baru pun mengurungkan niatnya membeli rumah baru karena tahu kredit untuk rumahnya yang sekarang saja sudah tinggi. Jadinya pasar properti menurun tajam. Dengan semakin banyaknya orang yang tidak lagi membayarkan kredit rumah dan hilangnya prospek calon pembeli rumah, maka semakin tinggi juga tingkat kredit macet di lembaga-lembaga penunjang kredit rumah karena rumah-rumah yang ditinggalkan dan disita bank ataupun perusahaan asuransi tersebut tidak laku dijual lagi. Lembaga-lembaga penunjang tersebut bisa berupa bank atau perusahaan asuransi. Dan perusahaan-perusahaan tersebut pun banyak yang masuk dalam NYSE.
Sebagaimana krisis keuangan yang terjadi di Indonesia saat tahun 1998 lalu, dimana banyak nasabah bank yang ramai-ramai menarik dana-nya dari bank-bank untuk mengamankan uangnya dan jika bank tersebut tidak kuat modalnya maka pasti akan bangkrut, maka hal tersebut juga terjadi di AS, tetapi kali ini yang menarik uangnya adalah perusahaan-perusahaan demi mempertahankan modal-nya.
Perusahaan-perusahaan tersebut beramai-ramai menghentikan investasinya di lantai bursa. Dan mulai meningkatkan nilai kreditnya di bank-bank untuk menutup modal usahanya. Bank-bank yang menjadi penalang bagi perusahaan-perusahaan yang mulai kesulitan modal tersebut pun akan mulai meningkatkan nilai kreditnya termasuk bagi produk-produk per bankan untuk masyarakat umum, antara lain potongan yang lebih besar pada tabungan-tabungan. Dan hal ini terjadi secara nasional di seluruh AS.
Yang terjadi di masyarakyat AS adalah selain bunga kredit perumahan meningkat, potongan tabungan yang semakin membesar, pajak yang juga menanjak, maka otomatis akan mendorong pengurangan pendapatan secara umum. Semakin tidak punya duit, maka otomatis belanja pun dikurangi. Produk-produk yang tidak termasuk kebutuhan primer akan dikurangi pembeliannya. Oleh karena itu industri otomotif AS terkena dampaknya secara dahsyat karena masyarakat AS yang tadinya setiap ada keluaran mobil terbaru akan terpikat, maka sekarang yang sudah memiliki mobil akan menjual kembali mobil tersebut atau membiarkan mobilnya di sita bank penjamin kreditnya sebelum kreditnya meningkat tajam. Sampai disini, kemacetan kredit belum berakhir.
Perusahaan-perusahaan penjamin leasing untuk produk import dari negara lain mulai merasakan dampaknya karena sebagain besar dari perusahaan-perusahaan tersebut adalah bagian atau anak perusahaan dari bank-bank besar di AS yang juga sudah mulai merasakan kredit macet di sektor perumahan, dan industri mobil, serta sektor-sektor non primer lainnya. Perusahaan-perusahaan leasing tersebut mulai membatasi produk-produk import yang masuk dalam daftar jaminan. Dengan demikian perusahaan-perusahaan yang melakukan import produk pun tidak mau ambil resiko dan mengurangi serta membatasi produk-produk yang diimport. Dari sini, akan mempengaruhi pendapatan dari negara-negara pengimport produk termasuk Indonesia, Jepang, negara Eropa dan negara lainnya.
Yang terjadi di negara-negara luar AS adalah, investasi nilainya menurun tajam karena sebagian besar investor memang berasal dari AS ditambah lagi nilai eksport mereka juga menurun seiring dengan semakin banyaknya pembatasan import di AS. Jadi pendapatan dari sisi keuangan investasi menurun, demikian juga dengan penjualan hasil produk ke negara-negara pengimport. Seperti diketahui, negara-negara maju tersebut, yaitu AS dan Eropa, sudah sangat kokoh dari sisi pemenuhan kebutuhan primernya, yaitu produk2 makanan dan pakaian. Sedangkan yang mereka impor dari negara lain adalah produk2 sektor sekunder dan tersier.
Di artikel ini penulis tidak menyertakan grafik dan presentase secara jelas karena setelah melihat dari berbagai sumber, presentase tersebut berbeda satu dan lainnya.
Setelah membaca penjelasan diatas, semoga anda menjadi jelas mengapa krisis global ini terjadi. Setelah krisis global ini terjadi, semua negara mencoba menyatukan pendapat melalui pertemuan-pertemuan kelas dunia yaitu G8 dan G20. G8 anggotanya adalah negara-negara maju di seluruh kawasan eropa. G20 anggotanya adalah negara-negara berkembang. Mereka membahas bagaimana menyelesaikan krisis keuangan di negara masing-masing dan regionalnya. Perwakilan anggota G8 dan perwakilan dari anggota G20 akhirnya bertemu dan merumuskan dalam International Action Plan. Dan hasil pertemuan-pertemuan itulah yang masuk dalam Internasional Action Plan yang dibahas oleh majalah Herald Tribune.
Penulis juga tidak akan membahas isi dari International Action Plan tersebut disini karena dikuatirkan hasil pembahasan penulis menjadi absurd dan penulis dianggap mengarang sendiri. Jika nanti penulis mendapatkan informasi tentang isi dari International Action Plan tersebut, maka akan dimuat di blog ini.
Terima kasih banyak.
Yose Aldo
Mariani Heliawati: gile… Yo, hebat amat lhu ?? Tahu kl km mau bahas sy bawain Herald tribune nya asli, skg ke singsal dmn lupa tuuh… gawat..
gitu doonk, bagus..
Salut buat Yose…
ternyata waktu yang santai bisa digunakan dengan baik yah Yos…
hmm…
bagus ko… ^^
ha…..gak da kerjaan masih tetep produktif ya???bagus2 di manfaatin waktunya biar gak jd pengacara ^_^
isinya jg bagus jd tau tenteng warung anugrah&krisis ekonomi.jadi waspada. buat penulis “waspadalah”!!!
good luck, GBU.
Hahahah.. komentarnya gitu banget yg lain.. bukan pada bahas artikel lu malah bahas tentang lu.. hahhaha.. jadi intinya artikel lu apaan yos ??
agar lebih afdol, maka kalo bisa dibahas makanan yg khas Semarang yang sudah banyak dikenal miaslnya :
nasi ayam , babat gongso , nasi pecel , mi kupat , soto , tahu gimbal , tahu pong dll.
pembahasan / analisa keadaan ekonomi akan menarik juga .
ko, lo hebatt bgt bakat jadi penuliss.. kgk mau kerja jadi jurnalistik ajah atau editor? haha…
bgs ko gw jadi tau bnykk juga niii haha..
Mau gak serius jadi penulis??? Kalo mau aku bisa kenalin ke Suara Merdeka. Serius….
Hehehehe… terima kasih untuk tawarannya pak Sugi. Tapi kayanya kemampuan blom sekaliber penulis. Makanya ini saya latihan dulu dengan cara bikin blog.
Saya malah mau tawarin pak Sugi buat blog untuk warung makan anugrah-nya GRATISSSSSSSS!!!! Tapi pak Sugi tiap malam harus kasih tau saya menu makanan untuk besok apa. Biar menarik. Gimana ? Mau kah ? Ini Seriussssss juga lho.
Untuk Pak Agus J, Terima kasih untuk komentnya. Bukan tidak mau, tapi sudah terlalu banyak blog yang membahas hal itu.
Terus terang, dengan kondisi saya yang perantauan, saya kira akan lebih membantu jika saya membahas makanan yang ada di sekitar tempat tinggal saya sekarang yang juga merupakan makanan yang sudah digemari oleh sesama perantau yang asal daerahnya sama dengan saya.
Ya supaya mereka bisa lebih nyaman untuk menentukan pilihan makanan dan nyaman hidup diperantauan juga.
Maaf baru ada waktu untuk mereview komentnya, Pak Agus J.
Untuk Grahamedia, Terima kasih untuk komentnya. Ya gak papa deh. Koment mereka baik untuk menambah semangat saya.
Untuk irma, terima kasih untuk semua komentnya. Saya lagi mempertimbangkan program untuk yang kasih koment terbanyak yang terpositif. Tapi masih bingung, enaknya apa yah ? hehehehehehehehe…..
Terima kasih Wulan, penulis akan selalu “waspada” lah eh… waspada deh, dink……. Halah ! Piye jal ? Ya pokoknya gitu deh. hehehehehehehehehe……
Untuk Laurent. Terima kasih…….
Untuk Thery, Terima kasih. ya harus bisa dong. Apa gunanya pengalaman hidup selama ini kalo gini aja gak bisa digunakan. Halah ! Sombong deh…. hihihihihihi…..
wah…..dalam juga analisanya…salut…terimakasih atas infonya…dan terus tetap berkarya.
salam
привет ! ничё беспричинный у тебя блог )) почитаешь мой? я любитель акуры Если что заходи и почитай, бывает пишу информацию , которой не покажу в книгах и чём то подобном